jump to navigation

Imperfect Timing March 3, 2008

Posted by Dotty Nugroho in Culture, Workdays.
add a comment

iphone.jpgMusik “Perfect Timing” tidak lagi melekat dengan iPhone.
iPhone sudah terbang jauh membangun identitas dan popularitasnya sendiri, jauh meninggalkan musik pengantarnya.

Hah? “sudah tidak lagi melekat pada brand”?
Konsistensi penggunakan musik itu untuk seluruh iklan iPhone, menandakan adanya niat untuk menciptakan music identity. Bukan sekedar ilustratif seperti “Get a Mac” ads.
Selama ini dipercayai bahwa musik bisa bikin doktrin dan memiliki relasi kuat dengan brand per se. Banyak musik diharapkan bisa membangun brand image. Ternyata belum tentu bekerja efektif. Contohnya “Saturday Night Fever” atau “I’m Loving It”.
Iya inget, tapi gak konek langsung sama brand2nya. Bukan relasi semantik. Lagu-lagunya bisa diingat karena keterlibatan sentimental, casually, bukan konek kepada brand directly.
Musik selain fungsi ilustratif memang punya kekuatan untuk jadi reminder, recall pada satu moment, dan itu memang terbukti.
Premis ini perlu diuji –bukan bidangku dan diluar jangkauan– dan sejauh ini belum ada buku yang membahas komunikasi musik.

Fun dari internet World Music Mixer

Perfect Timing March 3, 2008

Posted by Dotty Nugroho in Culture, Design, Workdays.
add a comment

Kini iPhone keluar dengan 16Gb dan firmware terakhir yang terpantau adalah 1.1.3. 16g.jpgMasih inget begitu antusiasnya aku nunggu barang ini masuk Indonesia diawal launching tahun 2007 lalu. Semua yang berhubungan dengan iPhone, jadi koleksi. Ads nya, potongan clips, ringtone, AT&T, Jailbrake, AnySim dll. bahkan music bed adsnya kedengaran seperti musik yang futuristik –padahal ballad biasa–. Sudah setahun menunggu tapi kelihatannya tetap nggak ada niat dari Apple untuk jual ke Asia. Kini harapanku terhadap benda itu lenyap, poof! gone, dan mulai menyadari bahwa ya begitulah iPhone adanya, seperti juga iMac, AppleTV, MacBookAir –beda dengan Power dan Pro series–, Kelebihan iPhone hanyalah pada “multi-touch”nya. Sebagai bare phone necessity (tanpa 3rd party software), benda itu gak punya spare battery, gak bisa pake sim card selain AT&T, tanpa numeric button (phone standard), gak bisa text editing di sms (copy/paste), susah delete single message selain the whole conversation dll.

Enough is enough. Dalam menyikapi iPhone, aku belajar dari anakku, yang udah nitip temennya sebulan setelah launching di sana (firmware 1.0.2). Ia memang berniat menerima iPhone sebagai iPod touch yang “kebetulan” you can make a call with it. Ia menolak update firmware dan tidak mau install 3rd party software kecuali beberapa games. Untuknya yang penting bisa ipod+video+telepon, happy. Bole juga.

Kini, setelah gak nguber iPhone (tapi tetep nunggu ver 2), sikapku juga berubah terhadap musik pengiring iklan2 iPhone. Musik berjudul “Perfect Timing This..” karya Orba Squara itu bukan lagi musik yang datang dari ‘surga’. Musiknya sudah tidak lagi melekat pada brand.

Fun dari internet Contemode

Selamat Datang REACTABLE February 23, 2008

Posted by Dotty Nugroho in Culture.
Tags: , , ,
add a comment

Meskipun aku buta computer programming, masih lumayan tahu dikit2 perkembangannya dari temen2 IT.
Revolusi besar dunia software diawali setelah semua program ditulis dengan konsep Object Oriented Programming (OOP) Sejak itu semua software sifatnya ‘terbuka’ (open architecture). Ini membuat software menjadi personalized, lebih friendly dan keuntungan besar dari berbagai program external (plug-ins), belum lagi dukungan open source dan cross platform.
ReactablePengaruh besar terhadap dunia musik elektronik sejauh ini adalah hadirnya Reactable.
Intrument interaktif ini menggunakan software ReacTIVision yang dibuat dengan konsep OOP.

Bagi penggemar Björk, dari 2 buah Reactable yang diproduksi, satu ia pinjam untuk dipakai dalam tour Volta nya. 
Bagi penggemar software musik loop constructions (clip based), sumbangan Reactable bakal berpengaruh besar dalam menambah koleksi library clips.

Reverse Engineering February 22, 2008

Posted by Dotty Nugroho in Culture.
add a comment

Reverse Engineering – merekonstruksi ke-naif-an

Karya seni yang jujur dan naif sering diterima sebagai ‘norak’ dan ‘kampungan’, tapi gak jarang sebaliknya bisa mengundang simpati dan empati dahsyat.
Munculnya
William Hung yang begitu naif di American Idol 2004 malah membuat Hung jadi terkenal dan dikenang sampai sekarang.

Belum lama ini sebuah stasiun TV menayang-ulang komedi “Warkop DKI” yang pernah populer di tahun 80an. Entah kenapa, mungkin juga karena kita telah jenuh dengan stereotypenya “infotainment”, sinetron tangis2an atau komedi artis cilik, tayangan ulang Warkop DKI itu ternyata sanggup memberikan penyegaran kepada penonton.
Ini gejala baru. Apakah karena masyarakat kita telah terdidik untuk mulai mengapresiasi film, kesadaran membela film lokal, atau kita jadi lebih toleran dengan practical jokes gaya Srimulat, atau malah cuma pertimbangan ekonomis dari station TVnya? Gak tahu lah, mungkin ini perlu tanya sama PakDe, tapi yang jelas kita mendapatkan hiburan segar, enteng dan lucu tanpa pretensi dan simbol2 rumit.
Nonton klip Warkop DKI Depan Belakang Bisa

Sesuatu yang tadinya dianggap lucu dan asik, bisa saja kemudian jadi norak dan ‘jayus’ dimasa sekarang. Begitu juga  sebaliknya. Ini hanya persoalan waktu.
Tetapi kemudian ada hal yang menarik disini bahwa, untuk merekonstruksi hal2 yang norak dan garing itu butuh kejelian khusus, perlu pendewasaan, pemahaman dengan referensi luas agar kita tidak keluar dari pakem nya (orisinalitas), bahkan butuh keberanian untuk mengungkap.

Selanjutnya silahkan baca “Musik Kung Fu”

Musik Kung Fu February 22, 2008

Posted by Dotty Nugroho in Culture.
Tags: , , ,
add a comment

Sebelum baca “Musik Kung Fu” dianjurkan untuk baca ”Reverse Engineering” dulu

Buat penggemar film kungfu, bila kita perhatikan film-film klasiknya Bruce Lee  si KungFu master itu, musiknya adalah orkestrasi film spy-action gaya Hollywood ‘jadul’ tahun  60-70an. Musik yang paling berkesan dari mode ini adalah theme song Mission Impossible. Melodi flute campuran antara etnik Cina dan Indian Cowboy, dominasi brass band dan bunyi drum set yang tumpul. Coba dengerin musik dan sound effect Bruce Lee vs Jackie Chan
Gaya scoring film action dijaman itu sangat sederhana dan naif, misalnya untuk scene yang thrilling dan menegangkan digunakan timpani do-sol-do-sol-do, makin tegang makin cepat. Untuk menggambarkan sakralnya belajar ilmu kungfu  digunakan gong Cina besar. Bila situasi menuju puncak ketegangan masih kurang terasa, maka ditambahkan suara sirene (lebih mirip suara alarm mobil sekarang), dst.
Begitu juga suara suara tinju dan ‘kick’ yang khas, bunyinya itu-itu lagi dari ujung film sampai habis tanpa memperhatikan sound staging (depth, width, height) dan screen direction .
Sound effect dari potongan film
Bruce Lee vs Chuck Norris

Rasanya suara-suara ini baru “bunyi” dan terasa ‘pantas’ kalo dipadu dengan visual yang penuh scratches dan dust, kadang gambarnya shaky sebagai simulasi efek sprocket , dan juga jenis font gaya grafis dijaman itu.
Begitulah hal2 menarik yang ditangkap oleh “tukang musik”.

Bruce Lee vs Jackie Chan:p versi junior2C

“Jawara Sejati” February 22, 2008

Posted by Dotty Nugroho in Workdays.
Tags: , , , ,
2 comments

Ada beberapa kesamaan diantara teman2ku tentang hobi, tentunya selain seputar profesi, jokes dll, yaitu kesamaan khusus dalam hal merekonstruksi ke-naif-an dan meng-impersonate seseorang, terutama tokoh2 yang kami anggap bukan panutan tapi terlanjur jadi idola masyarakat.
Ups!, nyantai, jangan negatif dulu, pasti Anda juga setuju. Contoh orang yang di-impersonate: seorang sineas kita dalam satu wawancara mewakili Indonesia, menyebut ‘discovery’ sebagai ‘disko-feri’, ‘directing’ jadi ‘dirijen’. Atau fotografer terkenal yang buka kursus spesial foto montage (darkroom manual) supaya foto pasangan pengantin bisa ada didalam kembang mawar atau didalam frame berbentuk hati dll (ini memang permintaan pasar), lalu ‘Indonesia’ jadi ‘endonesa’ masih banyak lagi.

jawara.jpgOK, salah satu orang yang punya ‘hobi’ sama itu adalah Jay Dimas. Bulan lalu ia ditunjuk jadi sutradara film iklan produk Sejati versi “Jawara” dan dia nunjuk aku untuk bikin musiknya. Disini jelas bukan karena teman, kolusi atau kompetensi, tapi lebih kepada ’trust’, kesamaan persepsi dan ‘nyambung’. Gak ada brief apa-apa kecuali cukup kalimat pendek “setting kungfu klasik”.

Begitu offlinenya dateng, langsung klop dengan bayanganku. OK banget! Simulasi seluloid seolah tanpa color grading, warna sengaja mentah seolah kebagian lensa jelek dan focus puller absen. Untuk bikin semua efek ini perlu extra effort, mulai dari konsep matang hingga eksekusi mantab.

Treatment musik dan sound effect supaya inline dengan konsep dan jadi karya seni bagus, aku harus bikin musik serta sound designnya simulasi teknologi yang appropriate di jaman itu. Mulai dari pilihan instrumen 60-70 dan dangdut klasik ala “A.Rafiq”, sound processor spring reverb, echo tape dan recording diatas magnetic dengan low speed.  Seluruh sound effect secara hati2 dibuat narrow bukan spatial wide stereo dan dipilih sound2 yang khas seperti pada tulisan sebelumnya “Reverse Engineering”.
Pada saat mixing digunakan hardware
equalizers dan compressor tabung (tube) supaya lebih dramatis, meski software plug-in sekarang juga lebih dari sanggup.
Oleh sebab itu ketika materi musik dan sound effects dari Twodees akan diremix dan dubb VO ditempat lain, teamku keberatan untuk memberikan dry vocalnya seperti yang diminta studio itu (sorry my friends).  Alasan ini aku terima, karena berdasarkan pengalaman sebelumnya ditempat yang sama. Teamku kuatir akan dimixing ulang dengan reverb yang clean dan spacey (kecenderungan audio man untuk bikin
sound effect ala Star Wars), sebab kalau ini terjadi, bisa meruntuhkan keseluruhan konsep kreatif dan semua kerja keras kita jadi garing sia-sia.

Film iklan “Jawara yang Sejati” treatmentnya bukanlah setting sepia klise ‘tempo doeloe’, bukan itu. Ini adalah rekonstruksi ke-naif-an, mewakili fusi subkultur dari semua icon yang pernah muncul dalam beberapa periode.
Messagenya menjangkau jauh kedasar ‘selera tersembunyi’ yang ada di setiap strata.
Ini hasil kerja serius didukung teamwork yang solid sejak konsep kreatif, alur cerita, pemilihan tokoh hingga eksekusi film. Sejak set building, koreografi, costumes & accessories, make-up, lighting, camera treatment, penggunaan CGI yang efektif, hingga editing.
Sebagai seni gambar bergerak semua entitasnya mengambil porsi sederhana tapi sangat efektif, dan sebagai film iklan aku yakin film ini menciptakan awarness tinggi. Film ini patut masuk nominasi dan dapet
 penghargaan. 
“memang mas jei dimas itu endonesa…” (baca: canggih)

Enjoy Weekend!

Voice Over dan White balance January 28, 2008

Posted by Dotty Nugroho in Workdays.
add a comment

Temanku, seorang fotografer –yg juga seorang audiophile– tanya tentang bagaimana kiat mixing voice over (VO) dengan musik untuk AV programnya. Sip! Ini analogus banget dengan fotografi pake film. 

Dalam fotografi kita menggunakan white balance, grey card dll untuk dapetin custom color balance. Atau kadang juga kita kejar ‘skin tone’ (warna kulit) untuk patokan color correction. Bahkan kalau perlu meng-isolasi obyek2 lain.

Sama halnya di audio, materi suara VO itu kita koreksi tonalnya melalui proses EQ dan ‘de-colorization’, kemudian kita playback dengan mengatur level, tonal dan energinya mendekati suara asli, sehingga seolah pembaca itu sedang berbicara didepan kita.
Dengan begitu kita mendapatkan level referensi dan bisa menentukan seberapa tinggi level musik yang dibutuhkan, dan juga komponen lainnya seperti sound effect dsb.

Proses ‘de-colorization’ adalah proses EQ (equalization) dan Compression untuk me-restorasi audio dari tonal colorization yang diakibatkan oleh rangkaian elektronik, sifat-sifat microphone, ruang rekam, akibat amplifikasi dll.

Meskipun dengan kamera digital, kita tinggal pencet tombol WB, atau kita set pakai format RAW. hal ini tak mengubah mindset kita dalam menentukan hasil akhirnya.
A tool is just a tool.

I Megaphone – Imogen Heap January 27, 2008

Posted by Dotty Nugroho in Culture.
add a comment

Aku mulai tertarik dengan synthesizer dan computer music sejak jaman kuliah, sejak itu aku mulai berburu karya2 musik eletronik dan mendewakan Isao Tomita. Tahun 1980 musik elektronika-synthesizer mulai muncul, tetapi harus berjuang berat melawan budaya “electone” yang sudah lama mengakar di masyarakat. Orang rancu membedakan antara musik electronica-Minimoog dengan bosanova-Electone. Ini sama sibuknya seperti berusaha menjelaskan beda musik hip-hop dengan “tripping angkot” dari organ tunggal di pesta sunatan.

Browsing di ak,’sa,ra Kemang, aku lihat album “I Megaphone” nya Imogen Heap (1998). Album ini termasuk rare collection.
Imogen Heap adalah seorang diva, lahir 9 Desember 1977 di Essex England, telah lama memperjuangkan electronica fusi dengan rock dan pop. Terakhir ia juga berkolaborasi dengan Guy Sigsworth dan me-release album berjudul “Frou-Frou”. 

Selamat Datang January 25, 2008

Posted by Dotty Nugroho in Uncategorized.
add a comment

Selamat Datang di blog ku

Aku belum sempet benahin blog ini, karena baru aja buka2in jendela supaya bau cat, bau rumah baru, cepet hilang. juga masih butuh waktu keluarin barang2 dari boxnya.

Aku keburu ngetap blog baru ini padahal ditempat lama ditawarin full option oleh PakDe.
Sekarang aku bingung mau tinggal dimana. Opsi itu aku pertimbangkan dulu mengingat ngeblog adalah chore tersendiri. Anyway terima kasih PakDe.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.