Reverse Engineering February 22, 2008
Posted by Dotty Nugroho in Culture.trackback
Reverse Engineering – merekonstruksi ke-naif-an
Karya seni yang jujur dan naif sering diterima sebagai ‘norak’ dan ‘kampungan’, tapi gak jarang sebaliknya bisa mengundang simpati dan empati dahsyat.
Munculnya William Hung yang begitu naif di American Idol 2004 malah membuat Hung jadi terkenal dan dikenang sampai sekarang.
Belum lama ini sebuah stasiun TV menayang-ulang komedi “Warkop DKI” yang pernah populer di tahun 80an. Entah kenapa, mungkin juga karena kita telah jenuh dengan stereotypenya “infotainment”, sinetron tangis2an atau komedi artis cilik, tayangan ulang Warkop DKI itu ternyata sanggup memberikan penyegaran kepada penonton.
Ini gejala baru. Apakah karena masyarakat kita telah terdidik untuk mulai mengapresiasi film, kesadaran membela film lokal, atau kita jadi lebih toleran dengan practical jokes gaya Srimulat, atau malah cuma pertimbangan ekonomis dari station TVnya? Gak tahu lah, mungkin ini perlu tanya sama PakDe, tapi yang jelas kita mendapatkan hiburan segar, enteng dan lucu tanpa pretensi dan simbol2 rumit.
Nonton klip Warkop DKI Depan Belakang Bisa
Sesuatu yang tadinya dianggap lucu dan asik, bisa saja kemudian jadi norak dan ‘jayus’ dimasa sekarang. Begitu juga sebaliknya. Ini hanya persoalan waktu.
Tetapi kemudian ada hal yang menarik disini bahwa, untuk merekonstruksi hal2 yang norak dan garing itu butuh kejelian khusus, perlu pendewasaan, pemahaman dengan referensi luas agar kita tidak keluar dari pakem nya (orisinalitas), bahkan butuh keberanian untuk mengungkap.
Selanjutnya silahkan baca “Musik Kung Fu”
Comments»
No comments yet — be the first.