“Sesuatu yang baru, unik dan go international”

Seringkali kita dengar dalam sebuah wawancara, klaim yang dilontarkan oleh pemusik baik mewakili grup atau pribadi, sebagai “sesuatu yang baru, unik dan go international“. Tentu sah-sah saja, karena ini sebenarnya adalah terjemahan dari semangat berkarya, propaganda dan harapan. Tetapi ketika klaim ini berhadapan dengan teori dan sejarah musik, maka klaim itu sia-sia. Sebab studi dan analisa musik sudah selesai membuat pemetaan karya musik jauh mendalam dan sangat luas, sejak musik tradisonal, klasik hingga experimental, dari music for prepared piano hingga conceptual music. Seperti pemetaan DNA, boleh dikatakan seluruh celah kreatif sudah tercakup dalam katalog.
Sama halnya genre-genre pada cabang seni lain. Bagaimanapun bentuk karya instalasi tetaplah sebagai instalasi, apapun bentuk konsep sebuah flash-mob tetap berada sebagai happenings (seni- kejadian).
Lihat karya2 Mark Applebaum
“To be realistic one must always admit the influence of those who have gone before” – Charles Eames

Produk kreatif yang sukses (baik secara finansial maupun popularitas) adalah musik yang berhasil dalam menyampaikan tema (komunikasi), baik tema dalam lirik ataupun tema musik itu sendiri. Selebihnya adalah faktor persepsi, interpretasi yang lebih bersifat psikologis yang jauh diluar konteks tulisan ini.
Sebuah karya musik biasanya dimulai dari desakan impuls kreatifitas yang jujur. Kalaupun terjadi kemiripan dengan karya lain yang sudah ada, bisa saja kebetulan, terinspirasi atau memang sengaja meniru, itu persoalan lain lagi. Seniman harus bertanggung jawab terhadap  kredibilitas dan reputasinya.

Melihat gerak perkembangan musik dan teknologi, maka bisa kita perkirakan proyeksi musik masa depan lebih kepada perkembangan teknologi produksi/reproduksi, format dan sistim media distribusi. Sedangkan dari sisi pemasaran, diharapkan perkembangan user interface pada portal musik baik mengenai pemindahan hak, sistim transaksi agar lebih baik lagi.

Jadi, klaim “”sesuatu yang baru, unik dan go international“. lebih tepat bila dilontarkan oleh pemasaran, pengamat dan kurator.  Bukan oleh pemusiknya.

Selamat berkarya

Selamat Datang REACTABLE

Meskipun aku buta computer programming, masih lumayan tahu dikit2 perkembangannya dari temen2 IT.
Revolusi besar dunia software diawali setelah semua program ditulis dengan konsep Object Oriented Programming (OOP) Sejak itu semua software sifatnya ‘terbuka’ (open architecture). Ini membuat software menjadi personalized, lebih friendly dan keuntungan besar dari berbagai program external (plug-ins), belum lagi dukungan open source dan cross platform.
ReactablePengaruh besar terhadap dunia musik elektronik sejauh ini adalah hadirnya Reactable.
Intrument interaktif ini menggunakan software ReacTIVision yang dibuat dengan konsep OOP.

Bagi penggemar Björk, dari 2 buah Reactable yang diproduksi, satu ia pinjam untuk dipakai dalam tour Volta nya. 
Bagi penggemar software musik loop constructions (clip based), sumbangan Reactable bakal berpengaruh besar dalam menambah koleksi library clips.

Reverse Engineering

Reverse Engineering – merekonstruksi ke-naif-an

Karya seni yang jujur dan naif sering diterima sebagai ‘norak’ dan ‘kampungan’, tapi gak jarang sebaliknya bisa mengundang simpati dan empati dahsyat.
Munculnya
William Hung yang begitu naif di American Idol 2004 malah membuat Hung jadi terkenal dan dikenang sampai sekarang.

Belum lama ini sebuah stasiun TV menayang-ulang komedi “Warkop DKI” yang pernah populer di tahun 80an. Entah kenapa, mungkin juga karena kita telah jenuh dengan stereotypenya “infotainment”, sinetron tangis2an atau komedi artis cilik, tayangan ulang Warkop DKI itu ternyata sanggup memberikan penyegaran kepada penonton.
Ini gejala baru. Apakah karena masyarakat kita telah terdidik untuk mulai mengapresiasi film, kesadaran membela film lokal, atau kita jadi lebih toleran dengan practical jokes gaya Srimulat, atau malah cuma pertimbangan ekonomis dari station TVnya? Gak tahu lah, mungkin ini perlu tanya sama PakDe, tapi yang jelas kita mendapatkan hiburan segar, enteng dan lucu tanpa pretensi dan simbol2 rumit.
Nonton klip Warkop DKI Depan Belakang Bisa

Sesuatu yang tadinya dianggap lucu dan asik, bisa saja kemudian jadi norak dan ‘jayus’ dimasa sekarang. Begitu juga  sebaliknya. Ini hanya persoalan waktu.
Tetapi kemudian ada hal yang menarik disini bahwa, untuk merekonstruksi hal2 yang norak dan garing itu butuh kejelian khusus, perlu pendewasaan, pemahaman dengan referensi luas agar kita tidak keluar dari pakem nya (orisinalitas), bahkan butuh keberanian untuk mengungkap.

Selanjutnya silahkan baca “Musik Kung Fu”

Musik Kung Fu

Sebelum baca “Musik Kung Fu” dianjurkan untuk baca “Reverse Engineering” dulu

Buat penggemar film kungfu, bila kita perhatikan film-film klasiknya Bruce Lee  si KungFu master itu, musiknya adalah orkestrasi film spy-action gaya Hollywood ‘jadul’ tahun  60-70an. Musik yang paling berkesan dari mode ini adalah theme song Mission Impossible. Melodi flute campuran antara etnik Cina dan Indian Cowboy, dominasi brass band dan bunyi drum set yang tumpul. Coba dengerin musik dan sound effect Bruce Lee vs Jackie Chan
Gaya scoring film action dijaman itu sangat sederhana dan naif, misalnya untuk scene yang thrilling dan menegangkan digunakan timpani do-sol-do-sol-do, makin tegang makin cepat. Untuk menggambarkan sakralnya belajar ilmu kungfu  digunakan gong Cina besar. Bila situasi menuju puncak ketegangan masih kurang terasa, maka ditambahkan suara sirene (lebih mirip suara alarm mobil sekarang), dst.
Begitu juga suara suara tinju dan ‘kick’ yang khas, bunyinya itu-itu lagi dari ujung film sampai habis tanpa memperhatikan sound staging (depth, width, height) dan screen direction .
Sound effect dari potongan film
Bruce Lee vs Chuck Norris

Rasanya suara-suara ini baru “bunyi” dan terasa ‘pantas’ kalo dipadu dengan visual yang penuh scratches dan dust, kadang gambarnya shaky sebagai simulasi efek sprocket , dan juga jenis font gaya grafis dijaman itu.
Begitulah hal2 menarik yang ditangkap oleh “tukang musik”.

Bruce Lee vs Jackie Chan:p versi junior2C

“Jawara Sejati”

Ada beberapa kesamaan diantara teman2ku tentang hobi, tentunya selain seputar profesi, jokes dll, yaitu kesamaan khusus dalam hal merekonstruksi ke-naif-an dan meng-impersonate seseorang, terutama tokoh2 yang kami anggap bukan panutan tapi terlanjur jadi idola masyarakat.
Ups!, nyantai, jangan negatif dulu, pasti Anda juga setuju. Contoh orang yang di-impersonate: seorang sineas kita dalam satu wawancara mewakili Indonesia, menyebut ‘discovery’ sebagai ‘disko-feri’, ‘directing’ jadi ‘dirijen’. Atau fotografer terkenal yang buka kursus spesial foto montage (darkroom manual) supaya foto pasangan pengantin bisa ada didalam kembang mawar atau didalam frame berbentuk hati dll (ini memang permintaan pasar), lalu ‘Indonesia’ jadi ‘endonesa’ masih banyak lagi.

jawara.jpgOK, salah satu orang yang punya ‘hobi’ sama itu adalah Jay Dimas. Bulan lalu ia ditunjuk jadi sutradara film iklan produk Sejati versi “Jawara” dan dia nunjuk aku untuk bikin musiknya. Disini jelas bukan karena teman, kolusi atau kompetensi, tapi lebih kepada ‘trust’, kesamaan persepsi dan ‘nyambung’. Gak ada brief apa-apa kecuali cukup kalimat pendek “setting kungfu klasik”.

Begitu offlinenya dateng, langsung klop dengan bayanganku. OK banget! Simulasi seluloid seolah tanpa color grading, warna sengaja mentah seolah kebagian lensa jelek dan focus puller absen. Untuk bikin semua efek ini perlu extra effort, mulai dari konsep matang hingga eksekusi mantab.

Treatment musik dan sound effect supaya inline dengan konsep dan jadi karya seni bagus, aku harus bikin musik serta sound designnya simulasi teknologi yang appropriate di jaman itu. Mulai dari pilihan instrumen 60-70 dan dangdut klasik ala “A.Rafiq”, sound processor spring reverb, echo tape dan recording diatas magnetic dengan low speed.  Seluruh sound effect secara hati2 dibuat narrow bukan spatial wide stereo dan dipilih sound2 yang khas seperti pada tulisan sebelumnya “Reverse Engineering”.
Pada saat mixing digunakan hardware
equalizers dan compressor tabung (tube) supaya lebih dramatis, meski software plug-in sekarang juga lebih dari sanggup.
Oleh sebab itu ketika materi musik dan sound effects dari Twodees akan diremix dan dubb VO ditempat lain, teamku keberatan untuk memberikan dry vocalnya seperti yang diminta studio itu (sorry my friends).  Alasan ini aku terima, karena berdasarkan pengalaman sebelumnya ditempat yang sama. Teamku kuatir akan dimixing ulang dengan reverb yang clean dan spacey (kecenderungan audio man untuk bikin
sound effect ala Star Wars), sebab kalau ini terjadi, bisa meruntuhkan keseluruhan konsep kreatif dan semua kerja keras kita jadi garing sia-sia.

Film iklan “Jawara yang Sejati” treatmentnya bukanlah setting sepia klise ‘tempo doeloe’, bukan itu. Ini adalah rekonstruksi ke-naif-an, mewakili fusi subkultur dari semua icon yang pernah muncul dalam beberapa periode.
Messagenya menjangkau jauh kedasar ‘selera tersembunyi’ yang ada di setiap strata.
Ini hasil kerja serius didukung teamwork yang solid sejak konsep kreatif, alur cerita, pemilihan tokoh hingga eksekusi film. Sejak set building, koreografi, costumes & accessories, make-up, lighting, camera treatment, penggunaan CGI yang efektif, hingga editing.
Sebagai seni gambar bergerak semua entitasnya mengambil porsi sederhana tapi sangat efektif, dan sebagai film iklan aku yakin film ini menciptakan awarness tinggi. Film ini patut masuk nominasi dan dapet
 penghargaan. 
“memang mas jei dimas itu endonesa…” (baca: canggih)

Enjoy Weekend!